Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Juni 2013

Sejarah Penolakan Ajaran Trinitas


220px-Shield-Trinity-Scutum-Fidei-English.JPG (220×198) Sebelum isa lahir, wilayah Yerusalem dijajah oleh imperium Romawi yang menganut kepercayaan Politeisme. Karena sebagai penduduk yang terjajah, bangsa Yahudi Essenes yang masih taat berpegang pada hukum-hukum Taurat Musa, tidak mampu mengembangkan ajaran agamanya di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan Yahudi Farisi dan Saduki menggunakan agamanya hanya dalam bentuk formalitas saja, dan perilaku hidupnya selalu menyalahi hukum-hukum Taurat.Ketika isa mendapat tugas menyampaikan risalah Tuhan, dia selalu memperingatkan penyelewengan Yahudi Farisi dan Saduki ini. Oleh karena itu dua kelompok ini sangat membenci isa dan berusaha membunuhnya.Untuk melaksanakan niat jahat itu, mereka menghasut penjajah Romawi, dengan mengatakan bahwa isa adalah tokoh pemberontak yang ingin menjadi Raja Yahudi, sekaligus ingin membebaskan bangsanya dari pendudukan imperium Romawi. Karenanya, dengan bantuan kedua kelompok Yahudi itu pun tentara Romawi berusaha menangkap isa dan memusnahkan pengikutnya.[1] Setelah isa diangkat ke langit, murid-murid isa mulai menyebarkan ajarannya secara meluas ke tengah-tengah masyarakat yang sudah terpengaruh oleh kepercayaan politeisme. Sehingga kemudian lahirlah dua kelompok penganut isa. Pertama, yang betul-betul mengikuti ajaran isa secara murni, yakni mereka yang berkeyakinan bahwa satu-satunya Tuhan hanyalah Allah, dan isa, kendati hidupnya dipenuhi dengan berbagai keajaiban, adalah seorang manusia pilihan yang menjadi utusan Allah. Kelompok ini dikenal dengan sebutan Kristen Unitarian. Kedua, mengikuti ajaran isa yang diajarkan oleh murid-muridnya, tetapi masih sulit meninggalkan kepercayaan politeisme yang sudah mendarah daging pada diri mereka. Akhirnya mereka mengkultuskan isa sebagai penyelamatnya, bahkan mengangkat isa menjadi Tuhannya. Kelompok ini dipelopori oleh Paulus (Saulus) yang kemudian dikenal dengan sebutan Kristen Trinitas.Proses lahirnya kepercayaan kelompok kedua ini sudah lama menjadi "masalah" di dalam sejarah perkembangan ajaran Yesus yang sampai kinipun masih dapat kita jumpai di berbagai penjuru dunia. Perjalanan kepercayaan Kristen Trinitas periode pertama mendapatkan tantangan hebat dari kelompok Kristen Unitarian. Namun karena dukungan dan pengaruh kuat imperium Romawi yang menganut kepercayaan politeisme, Kristen Trinitas dengan cepat menyebar luas ke berbagai wilayah, bahkan ke negara-negara taklukan tentara Romawi. Sementara itu, beribu-ribu penganut Unitarian pun telah diburu, ditangkapi, disiksa dan dibunuh. Adapun tokoh-tokoh Unitarian yang terkenal dalam sejarah kelam perkembangan ajaran Yesus ini di antaranya adalah:
Adapun tokoh-tokoh Unitarian yang terkenal dalam sejarah kelam perkembangan ajaran isa ini di antaranya adalah:

IRANAEUS (130-200 M)
Ketika Iraneus lahir, agama Kristen yang berpusat di Antiokia telah menyebar ke Afrika Utara sampai ke Spanyol dan Perancis selatan. Uskup Lyon yang bernama Pothinus pernah menyuruh Iranaeus membawakan surat petisinya ke Paus Eleutherus (174-189 M) di Roma. Dalam petisi itu, Pothinus memohon agar Paus menghentikan pembunuhan terhadap orang-orang Kristen yang menolak doktrin Trinitas. Disaat Iranaeus masih berada di Roma, dia mendengarkan berita pertikaian antar kelompok Kristen yang mengakibatkan Uskup Pothinus terbunuh. Setelah pulang ke Lyon, dia menjadi uskup menggantikan Pothinus.
Tahun 190 M, dia menulis surat kepada Paus Victor-I (189-198 M) untuk menghentikan pembunuhan terhadap orang-orang Kristen yang berbeda keyakinan. Kerusuhan antar kelompok terulang lagi, dan pada tahun 200 M, dia pun mati dibunuh oleh kelompok Trinitas yang dipelopori oleh Paus Victor.
Iranaeus meyakini bahwa isa bukanlah Tuhan, melainkan manusia biasa yang diutus oleh Tuhan. Dia melontarkan kritik tajam terhadap Paulus, dan menudingnya sebagai orang yang paling bertanggungjawab atas penyusupan ajaran-ajaran politeisme yang sesat dalam ajaran isa. Dalam menyampaikan ajaran yang diyakininya, Iranaeus sering mengutip ayat-ayat yang termaktub dalam Injil Barnabas.[2]

TERTULIAN (160-220 M)
Tertulian berasal dari Kartago, kemudian dia menjadi tokoh Gereja Afrika. Dia adalah seorang Unitarian yang mengidentikkan Yesus dengan Meisah dalam agama Yahudi. Beliau menentang Paus Calixtus (217-222 M) yang mengajarkan bahwa dosa besar itu bisa diampuni setelah melakukan taubat secara kanonik. Di antara pernyataan Tertulian yang masih tersimpan sampai sekarang adalah:
Mayoritas manusia berpendapat bahwa Yesus adalah manusia biasa. Dialah yang mula-mula memperkenalkan istilah Trinitas dari bahasa latin sewaktu membahas doktrin yang dipandangnya aneh itu. Sebab istilah seperti itu tidak pernah dijumpai dalam kitab suci.

ORIGEN (185-254 M)
Origen lahir di Iskandariah Mesir. Ayahnya, Leonidas, mendirikan Pusat Pendidikan Teologi, dan menunjuk Clement sebagai kepala Sekolahnya. Gereja Paulus (Trinitas) sangat membenci Leonidas, karena menganut ajaran Unitarian yang disebarkan oleh murid-murid Yesus (Apostolic Christianity), dan menolak ajaran-ajaran Paulus. Oleh karena itu pada tahun 208 M pihak Gereja Paulus membunuhnya. Peristiwa itu sangat menggores di hati Origen, dan ia ingin mempertaruhkan nyawanya untuk menuntut kematian ayahnya, namun dicegah oleh ibunya.

Gurunya, Clement, merasa terancam dan meninggalkan Iskandariah. Karena ayahnya terbunuh dan gurunya meninggalkan dia, Origen menggantikan Clement sebagai Kepala Sekolah Teologi. Dalam kedudukannya yang baru itu, dia terkenal sebagai cendekiawan yang berani.Pada tahun 230 M Origen menjadi pengkhotbah di Palestina. Tetapi karena alasan yang tidak jelas, Uskup Demerius memecat dan membuangnya. Dia pergi ke Caesarea dan membangun pusat pendidikan yang sangat terkenal di kota itu. Akan tetapi Konsili Iskandaria tahun 250 M menjatuhkan kutukan kepada Origen. Karena menolak doktrin Trinitas, ia pun ditangkap dan menjalani penyiksaan hingga menemui ajalnya pada tahun 254 M. Origen mengajarkan keyakinannya bahwa Allah adalah Maha Agung dan Yesus adalah seorang hamba Allah yang derajatnya tidak sebanding dengan Allah yang mengutusnya.

Dia dikenal sebagai ahli sejarah gereja yang termashur. Sejak muda sampai akhir hayatnya terkenal keberaninnya. Memiliki sifat-sifat terpuji sebagai guru kebenaran dan sangat dicintai oleh murid-muridnya. Ilmu pengetahuannya sangat luas, yang tidak ada duanya di kalangan Kristen saat itu. Dia pernah menulis kurang lebih enam ratus risalah dan makalah.

DIODORUS
Diodorus adalah uskup di Tarsus, kota kelahiran Paulus. Dia termasuk salah satu tokoh Kristen Antiokia. Perpendapatnya yang terkenal adalah:
Bahwa alam semesta ini selalu dalam perubahan. Dan dalam proses perubahan itu pasti ada periode awalnya yang berasal dari yang Maha Abadi dan Maha tidak Berubah. Yang Maha Abadi itulah sang Pencipta, Yang Maha Kuasa. Diodorus menegaskan, Yesus berkodrat manusiawi, baik ruhani maupun jasmani, dan sama sekali tidak memiliki kodrat Ilahi.

LUCIUS (Wafat 312 M)
Di samping terkenal sebagai ahli teologi yang menguasai bahasa Ibrani dan Yunani, dia pun dikenal sebagai tokoh yang sangat taat kepada Allah. Dia berada di luar lingkungan Gereja sejak tahun 220 M sampai tahun 290 M. Kesalehan dan luasnya ilmu pengetahuan yang dimilikinya mengundang kekaguman banyak orang. Dari perguruan di Antiokia yang dipimpinnyalah kemudian lahir aliran Arianisme yang dicetuskan oleh salahseorang muridnya yang bernama Arius.
Dalam memahami kitab sucinya, dia berpegang pada penafsiran dari segi tata bahasa beserta pengertiannya secara lahiriah dan kritis. Dia menentang penafsiran yang diambil dari pengertian simbolik dan allegoris. Lucius berpendapat, adanya pertentangan paham yang sangat tajam di tubuh Gereja telah membuktikan bahwa orang-orang Kristen berpedoman pada ajaran yang bersumber dari tradisi tulisan dan mengesampingkan tradisi lisan. Padahal Yesus atau para muridnya tidak pernah mencatat ajaran isa. Sedangkan tradisi tulisan berasal dari orang-orang yang tidak pernah menjadi murid isa. Tragedi ini menunjukkan ajaran isa begitu cepat lenyap disebabkan kekacauan isi ajaran yang berkembang sampai penghujung abad ke-3 Masehi.Lucius merevisi Septuaginta, yakni naskah Alkitab berbahasa Yunani. Dia membuang sekian banyak perubahan-perubahan yang disisipkan ke dalam Alkitab, ketika disalin ke dalam bahasa Yunani. Dia berkeyakinan bahwa isa itu bukan Tuhan, melainkan hamba Allah. Namun karena tetap mempertahankan keyakinannya itu, maka dia pun ditangkap dan disiksa hingga menemui ajalnya pada tahun 312 M.

ARIUS (250-336 M)
Kehidupan Arius sangat erat kaitannya dengan Constantin, kaisar imperium Romawi. Sehingga kita tidak bisa memahami sejarah kehidupan salah satunya, tanpa memahami sosok satunya lagi. Kisah Constantin menaruh perhatiannya kepada gereja berawal dari kekhawatirannya terhadap posisinya di Roma. Kaisar ini merasa cemburu terhadap putra mahkota bernama Crispus. Putra ini sangat termashur, karena sosoknya yang menawan dan sikapnya yang ramah, disertai pula keberaniannya di medan pertempuran. Agar namanya tetap bertahan sebagai figur kaisar Romawi, dan tidak tenggelam oleh ketenaran nama putra mahkotanya, maka Constantin membunuh Crispus. Kematian Crispus menimbulkan duka rakyat Romawi. Dibalik pembunuhan itu, tersebar pula berita bahwa ibu tiri putra mahkota itu menginginkan putra kandungnya sendiri yang akan menjadi kaisar, sehingga dia berniat untuk menghabisi Crispus. Akhirnya Constantin menjatuhi hukuman mati kepada ibu tiri itu dengan membenamkannya ke dalam air mendidih.

Para pendukung permaisuri yang mati itu bergabung dengan para pecinta putra mahkota untuk menuntut keadilan atas kematian kedua orang itu. Constantin dalam posisi tersudut dan meminta bantuan pendeta kuil Yupiter di Roma. Tetapi para pendeta itu mengatakan, tidak ada kebaktian atau korban yang bisa menghapus dosa pembunuhan yang telah dilakukannya. Suasana yang tegang di Roma membuatnya tidak tentram, sehingga Constantin pergi ke Bizantium.

Setibanya di sana, dia mengubah nama kota di pinggir selat Bosporus itu sesuai dengan namanya, Constantinopel. Di tempat baru itulah dia melihat perkembangan Gereja Paulus sangat menakjubkan. Constantin mendapat pelajaran, bahwa bila dia mau bertobat dan mengakui dosanya di Gereja, maka dosa itu akan diampuni. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk membersihkan nama dan tangannya yang telah dikotori lumuran darah dua pembunuhan dan keputusan-keputusan jahat selama dia berkuasa.

Setelah merasa terbebas dari beban dosa, dia pun mencurahkan pikirannya untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh imperiumnya. Dia melihat adanya kemungkinan memperalat gereja untuk meraih tujuannya dan menunjukkan loyalitasnya dengan cara memberi kebebasan kepada Gereja untuk berkembang, yang sebelumnya telah ditindas dan dibinasakan oleh Kaisar Diolektianus (284-305 M). Berkat dukungan Constantin inilah perkembangan gereja semakin pesat dan kuat. Sebaliknya dia mendapatkan keuntungan yang besar, karena wilayah sekitar Laut Tengah dipenuhi oleh Gereja, yang pemeluknya dapat dimanfaatkan untuk mendukungnya di medan perang. Bantuan pendeta merupakan faktor yang sangat penting untuk menyatukan Eropa dan Timur Tengah di bawah kekuasaan Constantin. Karena rasa terima kasih kepada Gereja di satu sisi, dan ingin menyudutkan para pendeta kuil Yupiter di Roma yang tidak bersedia membantunya, pada sisi lainnya, dia mengajak Uskup Roma untuk membangun greja yang besar dan megah di kota Roma. Dari posisi terjepit di kota itu, agama Kristen kemudian diberi fasilitas-fasilitas yang luar biasa oleh Constantin. Di samping itu ia juga membiayai pembangunan gereja yang besar dan megah di bukit Zion, Yerusalem.

Walaupun dia telah memberikan bantuan besar dan memeluk agama Kristen, tetapi dia belum pernah dibaptis, sebab pengaruh agama Paganisme yang menyembah dewa Yupiter dan dewa-dewi lainnya masih sangat dominan. Oleh karena itu Constantin bersikap menjaga keseimbangan. Adakalanya ia memperlihatkan diri seakan-akan sebagai pemuja dewa itu. Sikap seperti itu berlangsung cukup lama sampai meledaknya pertentangan di tubuh Kristen antara sekte Pauline Church (Gereja Paulus) yang menganut faham Trinitas dengan sekte Apostolic Church (Gereja Rasuli) yang menganut paham Unitarian.

Tokoh terkemuka sekte Unitarian waktu itu adalah Arius, salah seorang Dewan Gereja yang sangat terkenal dalam sejarah dunia Kristen. Dia lahir di Libya dan belajar di perguruan Antiokia yang dibina oleh Lucius. Ia merupakan kekuatan baru bagi Gereja Rasuli yang menghidupkan dan mempertahankan ajaran Yesus yang murni, dengan semboyan:

Ikutilah Yesus menurut yang diajarkan olehnya, dan tentanglah ajaran-ajaran Kristen yang diciptakan oleh Paulus.
Keagungan nama Arius pada masa itu dapat dilihat dari namanya yang hingga kini tetap disinonimkan dengan sekte Unitarianisme, yakni aliran yang meyakini bahwa satu-satunya Tuhan hanyalah Allah, dan Yesus adalah hamba dan utusan Allah.


Gereja Paulus menerima pukulan telak dari pihak Arius. Mereka mengakui, Arius bukan hanya seorang ahli perencana saja, melainkan juga sebagai orang yang jujur dan tidak pernah melakukan perbuatan tercela. Pada saat Tradisi Lisan (oral tradition) yang mempertahankan ajaran isa mulai lumpuh, dibarengi dengan pemahaman Tradisi Tulisan semakin menyimpang jauh, maka Arius tampil dengan segala keberanian dan kegigihannya mempertahankan ajaran isa yang telah disampaikan oleh murid-muridnya secara murni, sekaligus menentang persekutuan antara Gereja dengan Kaisar Constantin.

Arius adalah murid Lucian yang paling keras mengecam gereja Paulus. Oleh karenanya dia selalu diincar pembunuhan oleh pengikut-pengikut setia aliran Trinitas. Arius menyadari akan bahaya yang mengancam jiwanya. Walaupun riwayat hidup masa mudanya tidak begitu jelas, tetapi dia terc`tat menjadi tokoh penting Gereja Becaulis Iskandariah.

Sampai pada masa Konsili Nicea tahun 325 M, perbedaan keyakinan di kalangan Kristen sangat beragam, karena kepercayaan di kalangan Kristen sendiri juga sangat beragam yang didasari oleh pilihan masing-masing individu. Sebelum gereja mendapatkan kebebasan dari imperium Romawi, perbedaan keyakinan itu menimbulkan banyak pertentangan sengit, yang pada akhirnya mengakibatkan pertikaian antar kelompok Kristen. Oleh karena itu acapkali terjadi peristiwa-peristiwa penangkapan, penyiksaan, bahkan pembunuhan gelap. Ketika Constantin menjalin aliansi dengan Gereja, terjadilah perubahan dramatis. Meskipun waktu itu Constantin masih menjabat kepala negara yang penduduknya mayoritas menganut Paganisme, tetapi secara terbuka ia memberi dukungan kepada gereja, saat mana perbedaan antara Pauline Church dengan Apostolic Church nampaknya masih belum begitu tajam. Dengan demikian, agama Kristen memperoleh kedudukan baru di bawah naungan kaisar Romawi. Bagi kebanyakan orang, perkembangan Kristen seperti ini menimbulkan masalah politik. Sebagian orang yang dulunya menentang agama itu, berbalik mendukung karena mendapat tekanan dan intimidasi dari pemerintah yang berkuasa. Oleh karena itu mereka pun terpaksa memeluk agama Kristen, namun bukan karena panggilan hati nurani, melainkan karena tujuan-tujuan tertentu. Perubahan situasi itu sangat menguntungkan pihak Kristen. Gereja Paulus dan Gereja Rasuli masing-masing berkembang pesat hingga ke seluruh wilayah imperium Romawi, namun di sisi lain, menyebabkan pertentangan di antara kedua sekte itu semakin tajam di berbagai daerah.

Constantin yang pada waktu itu masih belum sepenuhnya memahami agama Kristen hanya ingin mendapatkan keuntungan politis bila ia berhasil menciptakan kesatuan gereja yang tunduk padanya dan berpusat di Roma, bukan Yerusalem. Ketika para jemaat gereja Rasuli (Apostolic Church) menolak untuk memenuhi keinginan kaisar itu, Constantin melakukan tekanan-tekanan terhadap mereka. Tetapi semua tekanan itu tidak mendatangkan hasil yang diharapkan. Para jemaat Gereja Rasuli yanf menganut faham Unitarian itu tetap menolak untuk tunduk kepada Uskup Roma.

Pertentangan semakin tajam mengenai pokok-pokok keyakinan di dalam agama Kristen. Sementara itu doktrin Trinitas telah diterima sepenuhnya oleh beberapa kalangan penting dalam dunia Kristen. Sedangkan Donatus, Melitus, terutama Arius tetap bersikukuh menentang doktrin tersebut. Lebih dari dua abad lamanya doktrin itu menjadi bahan perdebatan, tetapi tetap saja tidak ada pihak yang bisa memberikan penjelasan dan penafsiran yang memuaskan. Dan karena banyak fihak yang menentangnya, semakin banyak pula yang membutuhkan penjelasan dan difinisi tentang dogma itu.

Pihak Gereja dituntut untuk memberikan difinisi yang jelas tentang kodrat kemanusiaan dan kodrat ketuhanan Yesus. Termasuk memberikan penjelasan mengenai hubungan oknum yang satu dengan oknum lainnya dalam Trinitas. Gereja harus menunjukkan difinisi yang akurat mengenai hubungan ketuhanan Yesus dengan perawan Maria, ibunya. Karena setiap orang Kristen selalu dihadapkan pada sekian banyak problematika dogma Trinitas, maka surat pertanyaan yang dikirim kepada Paus di Roma pun semakin menggunung.

Surat jawaban dari Paus ternyata tidak bisa memberikan kepuasan bagi semua pihak. Arius tampil mengajukan tantangannya kepada Paus untuk memberikan difinisi yang logis dan rasional mengenai doktrin Trinitas. Arius sendiri memberikan argumennya sebagai berikut: 

"Jika Yesus itu sebagai anak Tuhan, berarti Allah harus ada terlebih dahulu dari pada Yesus. Justru sebelum ada Yesus, harus ada jarak waktu. Dalam jarak waktu itu yesus belum ada. Dengan demikian sudah pasti, bahwa Yesus itu dicipta oleh Allah dari esensi yang sebelumnya tidak ada. Oleh karena itu Yesus tidak sama dengan Allah ."

Kalangan Gereja Trinitas merasa terjungkal. Patriarch Alexander mengundang dewan gereja untuk mempersoalkan pendapat Arius itu. Sekitar seratus uskup dari Mesir dan Libya menghadiri undangan itu untuk meminta pertanggungjawaban dari Arius. Untuk mempertahankan keyakinannya, Arius mengajukan argumentasi yang semakin sulit dibantah sebagai berikut:

Ada suatu masa, yang di dalam masa itu Yesus belum ada, sedang Allah bersifat Maha Dulu dan Maha Abadi. Karena Yesus adalah makhluk Allah, maka dia bersifat fana (tidak kekal), dan sudah tentu tidak memiliki sifat abadi. Karena Yesus itu makhluk, maka dia termasuk obyek bagi perubahan seperti makhluk berakal lainnya. Karena hanya Allah saja yang tidak berubah, maka Yesus bukanlah Tuhan.

Disamping menggunakan logika, dia pun mengukuhkan argumentasinya dengan mengutip ayat-ayat Alkitab untuk membantah doktrin Trinistas seperti: 
"jika Yesus sendiri telah mengatakan: Tuhan lebih besar dari pada aku. (Matius 14:28), lalu bagaimana kita bisa percaya bahwa Allah dan Yesus itu sama? Kepercayaan seperti itu sangat bertentangan dengan sabda Yesus sendiri di dalam kitab suci." 


Pendapat Arius ini tidak bisa dibantah oleh semua uskup yang hadir pada sidang itu. Tetapi Patriarch Alexander, dengan menggunakan kekuasaan jabatannya, akhirnya menjatuhkan vonis Hukuman "Pengucilan Gereja" terhadap Arius!

Dalam tradisi gereja, siapa yang mendapat hukum pengucilan itu, tumpahan darahnya menjadi halal. Dan pembunuhnya akan mendapatkan surga sebagai imbalan telah berjasa membasmi pembawa ajaran sesat! Tetapi Arius mempunyai banyak pengikut yang pengaruhnya juga sangat luas sehingga tidak dapat dianggap enteng oleh pihak Gereja Trinitas, apalagi para uskup Wilayah Timur tidak membenarkan vonis Patriarch Alexander itu.

Pertentangan masalah keyakinan ini semakin memuncak. Alexander berada pada posisi yang terjepit, bahkan sangat kecewa karena para uskup wilayah timur mendukung Arius. Terutama Eusebius Nicomedia (wafat 342 M) sahabat Arius yang sangat berpengaruh di istana Constantinopel, dan Eusebius Caesarea (260-340 M) yang memberikan dukungan sangat besar kepada Arius. Dua orang ini dan Arius adalah murid Lucian, yang karena peritiwa pembunuhan gelap terhadap guru mereka, menjadikan hubungan ketiganya semakin erat.

Sampai sekarang kita masih dapat melihat surat Arius yang dikirim kepada Eusebius Constantinopel setelah dia dijatuhi hukuman pengucilan dari Alexander. Di antara surat-surat itu berbunyi:

"Kami dihukum karena menyatakan bahwa Yesus itu mempunyai permulaan, sedangkan Allah tidak mempunyai permulaan. "
Meski demikian, catatan-catatan mengenai pertentangan keyakinan yang sangat tajam kala itu tidak banyak lagi ditemui sekarang ini. Sebab ratusan, bahkan mungkin ribuan, dokumen dan segala bentuk catatan yang dianggap "membahayakan" kepentingan ajaran Trinitas telah disita, dimusnahkan, atau disembunyikan. Surat-surat yang masih selamat, menunjukkan Arius tetap gigih mempertahankan ajaran Yesus yang murni, yang bebas dari perubahan, dan sama sekali tidak menghendaki perpecahan dalam Kristen. Sedangkan kumpulan surat-surat Alexander memperlihatkan penggunaan bahasa yang tidak santun terhadap Arius dan para pendukungnya. Di antara surat-surat itu Alexander pernah menulis sebagai berikut:


Mereka sudah dikuasai iblis yang merasuk dalam diri mereka. Mereka adalah tukang sulap dan penipu yang cerdik merayu. Mereka kelompok penyamun yang hidup dalam persembunyian, yang siang malam mengutuki Kristus mereka mendapatkan banyak pengikut dengan memperalat wanita sundal.

Surat yang bernada kasar itu membangkitkan kemarahan Eusebius. Beliau mengundang uskup-uskup wilayah timur untuk menjelaskan duduk persoalan sebenarnya. Pertemuan para uskup itu menghasilkan keputusan untuk mengirim surat pada seluruh uskup wilayah timur dan barat, agar mendesak Patrirrch Alexander mencabut hukuman yang dijatuhkannya kepada Arius.

Alexander bersedia mencabut vonisnya, asalkan Arius mau tunduk kepadanya. Syarat itu ditolak mentah-mentah oleh Arius, yang kemudian "hijrah" ke Palestina untuk membina jemaat Kristus di sana. Kepada seluruh pelayan-pelayan gereja Katolik Alexander pun mengirimkan surat kecaman terhadap Arius dan Eusebius dan menuduh Eusebius mendukung Arius bukan karena keyakinan yang dianut oleh Arius, melainkan karena kepentingan ambisius. Kaisar Constantin juga menyadari situasi internal Kristen yang semakin memburuk ini terpaksa turun tangan dengan mengirimkan surat kepada kedua belah pihak. Kaisar sangat mengharapkan kesatuan pendapat dalam agama. Hal itu diperlukan untuk menjamin stabilitas daerah yang dikuasainya. Karenanya ia meminta kedua belah fihak untuk segera melupakan masalah yang dipertentangkan.
 Sementara itu terjadi persengketaan antara Constantin dengan saudara iparnya, Lucianus, yang menguasai wilayah Tracia. Dalam pertempuran tahun 324 M. Lucianus tewas. Dan karena dia termasuk pendukung Arius, kematiannya mengakibatkan posisi Arius mengalami kemunduran.

Sekalipun Constantin memenangkan peperangan, tetapi dia tidak mampu membendung kerusuhan yang melanda beberapa wilayah pendudukan Romawi. Kaisar tidak mempunyai jalan lain untuk mengatasi kekacauan ini kecuali mengundang seluruh uskup untuk menyelesaikan persoalan rumit itu. Posisi dirinya yang masih menganut faham Paganisme sangat menguntungkannya. Sebab tidak termasuk pengikut salah satu sekte Kristen yang sedang bertikai itu dengan sendirinya ia berkesempatan menjadi pemimpin sidang dan penengah yang patut dianggap tidak memihak. Akhirnya Constantin direstui oleh para uskup untuk menjadi pemimpin sidang, karena memang tidak ada pihak yang menyetujui sekte lain mengambil posisi itu. Sidang para uskup tahun 325 Masehi yang dipimpin oleh Constantin itu terkenal sebagai Konsili Nicea.[3] Peserta sidang gereja sedunia yang diadakan untuk pertama kali ini kebanyakan terdiri dari para uskup yang masih lugu, jujur dan berpegang teguh pada keyakinan yang dianutnya. Di saat itulah secara mendadak mereka harus berhadapan dengan tokoh-tokoh yang menguasai filsafat Yunani. Sehingga mereka tidak bisa memahami ungkapan-ungkapan filosofis yang didengarnya.

Sebaliknya, mereka kehilangan kemampuan untuk mengungkapkan pendapatnya, apalagi harus menggunakan argumentasi-argumentasi yang menuntut logika. Oleh karena itu, pada akhirnya mereka harus memilih salah satu dari dua pilihan, bertahan pada keyakinannya secara diam-diam, atau menyetujui apa saja yang diputuskan oleh pemimpin sidang.
Wakil-wakil dari pihak Gereja Paulus (yang berusaha memaksakan Trinitas) ternyata mampu menunjukkan dua oknum, yakni Allah Bapa dan Allah Anak (Yesus). Namun tidak berdaya untuk mencari dalil dari Alkitab bahwa Roh Kudus itu adalah salah satu dari oknum Tuhan.
Para uskup didikan Lucian seperti Arius, dengan mudah menyudutkan pihak Gereja Paulus dari masalah satu ke persoalan yang lain dalam Trinitas. Pihak Unitarian mengakui bahwa di dalam Alkitab, Yesus selalu menyembah Allah dan tidak pernah menyebut dirinya Tuhan. tetapi mereka juga menunjukkan kepada lawannya sabda Yesus yang berbunyi:
"Dan janganlah kamu memanggil Tuhan kepada seorang pun di dunia ini, karena hanya satu saja Tuhan kamu, yaitu yang ada di Sorga." (Matius 23:9)


Dengan demikian, kata Arius, sosok "Anak" itu bukan hanya satu, bukan Isa saja, melainkan berjuta-juta manusia! 
Kelompok Trinitas tidak mampu mematahkan argumentasi para Unitarian, sebab kepercayaan terhadap doktrin Trinitas yang mereka yakini tidak berdasarkan pada kitab Injil. Dengan susah payah mereka berusaha membuktikan bahwa Bibel telah menyatakan Yesus itu bayangan Allah yang Maha Benar. Namun para Unitarian menjawab:


Kita sebagai manusia adalah bayangan dan kemegahan Tuhan. Jika dikatakan bahwa bayangan Allah adalah Tuhan, berarti seluruh manusia di muka bumi adalah Tuhan!
Perdebatan dalam sidang semakin meruncing, dan semua pihak merasa pesimis terhadap hasil sidang itu. Ujungnya, masing-masing pihak pun saling mengharapkan dukungan kaisar yang memegang keputusan akhir. Constantia adik kaisar Constantin adalah penganut faham Unitarian, memberitahu Eusebius Nicodemia bahwa kaisar ingin mempersatukan gereja, sebab perpecahan akan membahayakan kekaisaran. Jika tidak tercapai persetujuan dan kesamaan keyakinan, sangat mungkin kaisar akan kehilangan kesabaran dan menarik seluruh dukungannya kepada gereja, dan ini akan mengakibatkan kepentingan agama Kristen menjadi lebih memprihatinkan daripada sebelumnya.


Kendati Eusebius Nicodemia telah berupaya mengajak Arius dan para sahabatnya untuk berunding, namun tidak dicapai kesepakatan kecuali bahwa kelompok Unitarian semakin teguh mempertahankan keyakinan mereka menolak doktrin Trinitas. Hal ini, tentu saja, mereka sadari sebagai sebuah keputusan yang beresiko memposisikan Unitarian sendiri sebagai kelompok minoritas dalam proses pengambilan keputusan pada Konsili Nicea.

Sementara itu, pendukung Trinitas yang menyadari dukungan Constantin terhadap Gereja Paulus dapat menambah kekuasaan mereka, bahkan sekaligus dapat pula dimanfaatkan untuk mengakhiri pengaruh Gereja Rasuli (Unitarian) di Afrika Utara dengan cara-cara represif, (menggunakan kekuatan militer imperium Romawi), segera menentukan sikap. Gereja Paulus menyetujui perubahan-perubahan pada agama Kristen! Dan karena pemujaan kepada Dewa Matahari sudah menjadi tradisi bangsa Romawi kala itu, sedangkan kaisar dipandang sebagai perwujudan dari Dewa Matahari, maka gereja Paulus pun menyusun rumusan sebagai berikut:

1.Hari Minggu (hari Dewa Matahari) bangsa Romawi dijadikan hari Sabat bagi agama Kristen.

2.Hari kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember dijadikan hari kelahiran Yesus.

3.Lambang Dewa Matahari, Salib Sinar, dijadikan lambang agama Kristen.

4.Untuk menyatukan upacara ritual bagi Dewa Matahari dan Yesus, patung Dewa Matahari pada salib diganti dengan    patung Yesus.

Kaisar merasa puas, karena jurang perbedaan di antara pemeluk Kristen dan Pagan yang dianut oleh bangsa Romawi kala itu dengan sendirinya dapat diakhiri. Akhirnya Trinitas pun diterima dengan suara terbanyak sebagai keyakinan resmi dalam agama Kristen. Pengertian Keesaan Tuhan dalam bahasa Yesus telah berubah maknanya setelah disalin ulang ke dalam tatanan bahasa filsafat Neo-Platonisme yang dikenal dengan Mystic Trinity. Setelah perubahan pengertian keesaan Tuhan diterima oleh suara terbanyak, langkah perumusan ajaran Kristen selanjutnya pun semakin jauh menyimpang dari ajaran Yesus yang sebenarnya. [4] Rumusan Credo Nicea yang dikenal sampai saat ini adalah rumusan yang ditandatangani oleh peserta konsili yang ketika itu mendapatkan dukungan penuh dari kaisar Constantin. Sementara itu, karena Arius menolak mengakui keputusan konsili tersebut, maka diumumkanlah Anathema (kutukan) terhadap ajaran Arius sebagai berikut:


"Bagi orang yang berkata: Ada jarak waktu di mana Yesus belum ada. Sebelum dilahirkan, Yesus tidak ada. Yesus diciptakan dari yang tidak ada. Yesus berbeda zatnya dengan Allah. Yesus adalah obyek perubahan."

Setelah peserta konsili pulang ke daerahnya masing-masing, ternyata mereka terlibat kembali dalam perdebatan mengenai keputusan konsili itu. Pengikut Unitarian yang tetap menentang keputusan konsili pun mulai diburu dan ditangkapi. Mereka yang menolak "bertaubat" dan menerima doktrin Trinitas dijebloskan dan disiksa dalam penjara-penjara bawah tanah!
Arius sendiri sejak tahun 325 M telah dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah di pulau kecil sekitar selat Bosporus. Walau demikian, bukannya mereda, perdebatan dan pertikaian antara dua kelompok ini malah semakin meruncing di berbagai wilayah kekuasaan Romawi. Hanya Athanasius yang masih mematuhi keputusan tersebut, sedangkan para pendukungnya sendiri diliputi kebingungan menghadapi berkecamuknya berbagai pertentangan ini.
Sabinas, uskup tertua dari kristen unitarian di Thracia mengatakan :

"yang hadir dalam konsili Nicea itu adalah kumpulan orang dungu yang bodoh! Keputusan Konsili itu hanya disahkan oleh orang-orang tolol yang tidak memiliki pengetahuan sama sekali dalam masalah yang mereka putuskan."


Tahun 328 M, hanya 3 tahun setelah Konsili Nicea, Patriarch Alexander meninggal. Terjadilah perebutan jabatan keuskupan Iskandariah. Athanasius dipilih dan ditasbihkan menjadi uskup di daerah itu. Pemilihan itu menimbulkan kecaman keras, karena dilakukan dengan cara-cara tidak jujur, intimidasi, dan tindakan-tindakan dalam bentuk kekerasan lainnya. Pengikut Arius pun melakukan perlawanan terhadap Athanasius.

Cosntantina, saudara kaisar Constantin, menentang pembunuhan terhadap orang Kristen Unitarian, terutama menentang pembuangan Eusebius Nicomedia. Dia tetap mempertahankan bahwa Arius adalah pemimpin agama Kristen yang benar. Alkhirnya, Constantina berharil membebaskan Eusebius Nicomedia agar kembali ke istana. Kembalinya Eusebius ini merupakan pukulan telak bagi kelompok Athanasius. Sedangkan Kaisar Constantin tampak semakin condong kepada Arius.

Ketika mendapat laporan tentang kecaman masyarakat Kristen atas pemilihan Athanasius, kaisar memanggil uskup agar datang ke Constantinopel. Dengan berbagai alasan Athanasius tidak datang memenuhi panggilan itu. Pada tahun 335 M, ketika dilangsungkan konsili di kota Tyre untuk memperingati tiga puluh tahun pemerintahan kaisar Constantin, Athanasius diwajibkan menghadirinya. Dalam konsili itu, dia dituduh telah melakukan kezaliman di wilayah keuskupannya. Karena suasana sidang saat itu menyudutkan dirinya, maka dia segera keluar sebelum konsili sendiri menjatuhkan Hukum Kutukan kepada dirinya.
Para uskup kemudian melanjutkan sidang di Yerusalem dan mengukuhkan kutukan terhadap Athanasius serta menerima Arius kembali ke pangkuan gereja. Constantin mengundang Arius dan Eusebius ke Constantinopel. Perdamaian antara Arius dan kaisar terjalin baik, dan para uskup akhirnya menjatuhkan kutukan kepada Athanasius.

Arius diangkat menjadi Patriarch Constantinopel, tetapi jabatan itu tidak berlangsung lama, dia wafat secara mendadak pada tahun 336 M karena makanannya diberi racun. Pihak gereja menganggapnya sebagai suatu keajaiban, tetapi pihak istana mencurigai peristiwa itu. Kaisar membentuk komisi untuk menyelidikinya. Athanasius terbukti sebagai otak pembunuhan tersebut dan dijatuhi hukuman! Constantin yang perasaannya sangat terguncang atas kematian Arius itu, dibawah bimbingan adiknya, Constantina, akhirnya memeluk agama Kristen Unitarian dan dibaptis oleh Eusebius Nicomedia. Pada tahun 377 M, kaisar Romawi itu menutup mata dengan membawa keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, dan isa adalah anak manusia yang diutus oleh Tuhan.Arius memiliki peranan penting dalam sejarah Kristen. Bukan hanya karena jasanya berhasil mengajak kaisar Constantin memeluk agama yang diajarkan oleh isa, tetapi juga karena mewakili orang-orang yang tabah dan gigih mempertahankan kemurnian ajaran isa itu sendiri. 
Pada saat ajaran isa tercampur aduk dengan kepercayaan-kepercayaan pagan dan politeisme, sehingga ajaran Kristen yang asli semakin kabur, maka Arius dengan segala keberanian dan ketabahan hatinya, tampil mempertahankan kemurnian akidah tauhid.Pada hakikatnya agama wahyu (samawi) yang dibawa oleh isa mengajarkan Tauhid, atau keesaan Tuhan. Tetapi perkembangan berikutnya telah menyeret banyak pengikut-pengikutnya ke dalam kemerosotan Tauhid yang menyebabkan mereka secara sadar, atau tidak sadar, melanggar berbagai ajaran isa. Kondisi keimanan mereka semakin memburuk, dan pada akhirnya membawa mereka semakin jauh terperosok ke dalam keyakinan Politeisme yang tidak pernah diajarkan oleh isa sendiri. Kisah di atas semakin meyakinkan kita bahwa Islam telah mengajarkan kepada pengikutnya untuk berpegang teguh pada agama Tauhid, agama yang tegas-tegas menyatakan bahwa tiada Tuhan yang layak disembah selain Allah, agama yang mengakui para Nabi dan Rasul sejak Adam, Ibrahim, Nuh, Musa, Isa, dan seterusnya - hingga Muhammad, adalah utusan Allah. Mereka diutus untuk menyampaikan risalahnya kepada umat manusia, agar manusia mengenal jalan lurus yang diridhai-Nya untuk, pada saatnya nanti, kembali dengan selamat kepada-Nya!
 [www.syahidah.web.id]

Minggu, 02 Juni 2013

Fakta Sejarah Yahudi Meminta Perlindungan Kepada Kaum Muslimin Albania

Sekalipun Yahudi menuduh Islam sebagai agama anti semit. Sekalipun Islam dituduh sebagi agama teror nomor satu bagi Yahudi. Alangkah baiknya, mereka harus kembali membuka lembaran hitam sejarah ketertindasan mereka. Sejarah “hitam” ketika mereka justru diselamatkan oleh kaum muslim saat dikejar-kejar oleh NAZI. Islam lah yang dengan berbesar hati membuka pintu rumahnya untuk dijadikan tempat mereka bersembunyi.

Kisah ini bukanlah roman picisan belaka atau rekayasa. Fakta ini benar-benar terjadi di sebuah Negara bernama Albania. Sebuah Negara berbasis muslim yang ditandai ketika Khalifah Utsmaniyah menguasai negara itu antara tahun 1385-1912.
Dalam jejak Perang Dunia II, kisah pembantaian orang Yahudi menjadi catatan tersendiri. Mereka dikejar dan dicari oleh bala pasukan NAZI. Dalam keadaan bingung, mereka hampir putus asa, terlebih jalur pelarian menjadi satu hal yang sulit mereka perjuangkan.

Dalam keadaan bimbang, mereka bagai mendapatkan setitik cahaya. Dari informasi yang beredar, ada sebuah negara berpenduduk ramah dan baik terhadap tamu. Negara itu bernama Albania. Sebuah Negara berbasis muslim yang masuk ke teritori Eropa bagian Tenggara –yang kini- berbatasan dengan Montenegro di sebelah utara, Serbia (Kosovo) di Timur laut, Republik Makedonia di Timur, dan Yunani di Selatan.

Sekitar dua ribu orang Yahudi kemudian melarikan diri ke daerah Albania. Di sana, mereka dilindungi oleh keluarga-keluarga muslim Albania di kota Berat. Para muslim Albania mempertaruhkan nyawa guna melindungi pengungsi Yahudi yang meminta pertolongan.
Padahal menyembunyikan Yahudi risikonya sangat tinggi, karena setiap saat patroli NAZI dapat datang ke perkampungan dan menggeledah tiap isi rumah. Kalau sampai ketahuan menyembunyikan Yahudi, maka kehilangan nyawa adalah ganjarannya.

Namun menurut catatan sejarah, tidak ada satupun pengungsi Yahudi yang diserahkan oleh muslim Albania pada pihak NAZI. Dengan penuh keikhlasan dan kebesaran hati, para muslim Albania melindungi pengungsi Yahudi dengan segenap cara.
Justin Kerber, seorang Rabbi Yahudi sampai-sampai mengatakan, “Komunitas Muslim ada di antara orang-orang yang telah menghadapi resiko besar karena memberikan perlindungan pada kaum Yahudi di rumah-rumah mereka. Dan mereka melakukannya tanpa melihat latar belakang agama para Yahudi.”

Sedangkan, Dr Ghazala Hayat, seorang doktor ahli syaraf di Universitas St. Louis dan juru bicara Islamic Foundation di Greater Saint Louis mengatakan, “Anda mungkin belum pernah mendengar cerita ini, bagaimana komunitas Muslim Albania mempertaruhkan nyawa mereka sendiri untuk mengamalkan keimanan dan menghormati kehidupan yang disebut Besa,”
Besa sendiri adalah tradisi yang berakar dari Al Qur’an yang berarti “memegang janji” atau “menjaga kehormatan”. BESA juga berarti peduli pada yang membutuhkan, melindungi kaum lemah, dan menolong sesama.

Dalam upaya melindungi kaum Yahudi, para muslim Albania menganggap mereka sebagai saudara. Mereka diberikan pakaian yang sama, makanan yang sama, dan tinggal bersama-sama di rumah seperti anggota keluarga. Apabila ada patroli Jerman datang, kaum Yahudi disembunyikan di bawah tanah atau tengah hutan.

Kisah dari keluarga Kasem Kocerri, yang didatangi serombongan patroli NAZI pada awal 1944, menarik untuk dicermati. Saat itu, tentara NAZI menanyakan di mana para pengungsi Yahudi bersembunyi. Tapi Kasem menolak untuk memberitahu. Diam-diam, ia menyembunyikan keluarga Yahudi di salah satu gudang di atas bukit.
Keluarga Halil Frasheri menceritakan pengalamannya yang mencekam saat patroli NAZI menggeledah rumah ke rumah. Ia, melalui pintu belakang, mengajak keluarga Yahudi yang bersembunyi di rumahnya, untuk lari ke dalam hutan.

Namun kisah fenomenal di atas itu semua, terjadi ketika Yahudi mengalami berbagai kekejaman di Eropa. Namun berbeda ketika kaum Yahudi hidup wilayah Kekhilafahan Utsmani. Selama ratusan tahun mereka tinggal dalam teritori Utsmani, mereka menikmati kebebasan menjalankan agama dan berbagai perlindungan sebagai kaum minoritas atau ahlud dimah. Selama itu, kaum Yahudi tidak berfikir untuk berpisah dari Utsmani.

Kondisi Yahudi di Utsmani itu begitu bertolak belakang dengan perlakuan yang diterima Yahudi di dataran Eropa ketika Kristen berkuasa sehingga mereka harus mengungsi besar-besaran, terutama ke wilayah Utsmani. Padahal ketika Spanyol berada di bawah pemerintahan Islam, kaum Yahudi mendapat perlakuan yang baik.

Oleh karenanya, Martin Gilbert, dalam Atlas of Jewish Civilization  mencatat bagaimana kebijaksanaan penguasa muslim Spanyol terhadap Yahudi. Dia katakan bahwa penguasa muslim juga memperkejakan sarjana Yahudi sebagai kecintaan mereka terhadap Sains dan ilmu pengetahuan. (Islampos)

Rabu, 24 April 2013

SEJARAH TIMBULNYA PERSOALAN-PERSOALAN TEOLOGI DALAM ISLAM SERTA GOLONGAN-GOLONGAN ISLAM PASCA NABI MUHAMMAD WAFAT




Selama di mekkah nabi Muhammad SAW hanya mempunyai fungsi kepala agama, dan tak mempunyai fungsi kepala pemerintahan, karena kekuasaan politik yang ada disana belum dapat dijatuhkan pada waktu itu.Di Madinah sebaliknya, nabi Muhammad SAW, disamping menjadi kepala agama juga menjadi kepala pemerintahan.
Ketika beliau wafat tahun 632 M daerah kekuasaan Madinah bukan hanya terbatas pada kota itu saja, tetapi boleh dikatakan meliputi seluruh semenanjung Arabia.
Jadi tidak mengherankan kalau masyarakat Madinah pada waktu wafatnya nabi Muhammad SAW sibuk memikirkan pengganti beliau untuk mengepalai negara yang baru lahir itu, sehingga penguburan nabi Muhammad SAW merupakan soal kedua bagi mereka.
Sejarah meriwayatkan bahwa Abu Bakar-lah yang disetujui oleh masyarakat islam di waktu itu menjadai pengganti atau kholifah nabi dalam mengepalai negara mereka.Kemudian Abu Bakar digantikan oleh ‘Umar Ibn al-Khattab dan ‘Umar oleh Utsman Ibn ‘Affan.
Salah seorang pemuka pemberontak-pemberontak Mesir, yang datang ke Madinah dan kemudian membunuh Utsman adalah Muhhammad Ibn Abi Bakar, anak angkat dari ‘Ali Ibn Abi Tahlib dan pula ‘Ali tidak mengambil tindakan keras terhadap pemberontak-pemberontak itu, bahkan Muhammad Ibn Abi Bakar diankat menjadi gubernur Mesir.
Bagaiamanapun perisrtiwa ini merugikan bagi ‘Ali dan manguntungkan bagi Mu’awiyah. Yang legal menjadi kholifah sebenarnya hanyalah ‘Ali, sedangkan Mu’awiyah kedudukannya tak lebih dari Gubernur daerah yang tak mau tunduk kepada ‘Ali sebagai kholifah.
Persoalan-persoalan yang terjadi dalam lapanagn politik sebagai digambarkan di atas inilah yang akhirnya membawa kepada timbulnya persoalan-persoalan teologi.
Persoalan ini menimbulkan tiga aliran teologi dalam islam. Pertama aliran Khawarij, Murji’ah, dan Mu’tazilah.
Dalam pada itu timbul pula dalam islam dua aliran dalam teologi yang terkenal dengan nama Al-Qadariyah dan Al-Jabariyah . selain itu ada dua aliran teologi yang terkenal yaitu aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah.
Dengan demikian aliran-aliran teologi penting yang timbul dalam islam ialah aliran Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Asy-’Ariyah dan Maturidiyah. Aliran-aliran Khawarij, Murji’ah, dan Mu’tazilah tak mempunyai wujud lagi kecuali dalam sejarah. Yang masih ada sampai sekarang ialah aliran-aliran Asy-’Ariyah dan Maturidiyah, dan keduanya disebut Ahlussunnah Wal Jama’ah.

KAUM KHAWARIJ

            Nama Khawarij berasal dari kata Kharaja yang berarti keluar. Nama itu diberikan kepada mereka, karena mereka keluar dari barisan ‘Ali. Tetapi ada pula pendapat yang mengatakan bahwa pemberian nama itu didasarkan atas ayat 100 dari Surat An-Nisa’, yang di dalamnya disebutkan: ” Keluar dari rumah lari kepada Allah dan Rasul-Nya”. Dengan demikian kaum Khawarij memandang diri mereka sebagai orang yang meninggalkan rumah dari kampung halmannya untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasul-Nya. Nama lain yang diberikan kepada mereka adalah Haruriah, satu desa yang terletak di dekat kota Kufah, di Irak. Di sini mereka memilih ‘Abdullah Ibn Abi Wahb Al-Rasidi menjadi imam mereka sebagai ganti dari ‘Ali Ibn Abi Tholib. Dalam pertempuran dengan kekuatan ‘Ali mereka mengalami kekalahan besar, tetapi akhirnya seorang Khariji bernama ‘Abd Al-Rahman Ibn Muljam dapat membunuh ‘Ali.
            Di sini kaum Khawarij memasuki persoalan Kufr: Siapakah yang disebut kafir dan keluar dari Islam? Siapakah yang disebut Mukmin dan dengan demikian tidak keluar dari, tetap dalam Islam? Persoalan ini bukan persoalan politik melainkan persoalan Teologi.
            Menurut Al-Syahrastani, mereka terpecah menjadi delapan belas subsekte, dan menurut Al-Baghdadi dua puluh subsekte. Al-Asy’ari menyebut subsekte-subsekte yang jumlahnya lebih besar lagi.
  1. AL – MUHAKKIMAH
Golongan Khawarij asli dan terdiri dari pengikut-pengikut ‘Ali, disebut golongan al-Muhakkimah. Bagi mereka, ‘Ali, Mu’awiyah, kedua pengantara ‘Amr Ibn al-’Ash dan Abu Musa al-Asy’ari dan semua orang yang menyetujui arbitrase besalah menjadi kafir.
  1. AL – AZARIQAH
Golongan yang dapat menyusun barisan baru dan besar lagi kuat sesudah golongan al-Muhakkimah hancur adalah golongan al-Azriqah. Subsekte ini sikapnya lebih radikal dari al-Muhakkimah. Mereka tidak lagi memakai term kafir, tetapi term musyrik atau polytheis, dan dalam islam merupakan dosa terbesar, lebih besar dari kufur. Menurut paham subsekte yang ekstrim ini hanya merekalah yang sebenarnya islam. Orang islam yang di luar lingkungan mereka adalah kaum musyrik.
  1. AL – NAJDAT
Najdah Ibn ‘Amir al-Hanafi dari Yamamah dengan pengikutnya pada mulanya ingin menggabungkan diri dengan golongan al-Azariqah, tetapi dalam golongan ini timbul perpecahan. Najdah berpendapat bahwa orang berdosa besar menjadi kafir dan kekal dalam neraka hanyalah orang islam yang tak sepaham dengan golongannya. Dosa kecil baginya akan menjadi dosa besar kalau dikerjakan terus-menerus dan yang mengerjakannya sendiri menjadi Musyrik.
Dalam kalangan Khawarij, golongan inilah kelihatannya yang pertama membawa paham taqiah, yaitu merahasiakan dan tidak menyatakan keyakinan untuk keamanan diri seseorang. Tetapi tidak semua pengikutnya setuju dengan pendapat dan ajaran-ajaran di atas, terutama paham bahwa dosa besar tidak membuat pengikutnya menjadi kafir, dan dosa kecil bisa menjadi dosa besar.
  1. AL – ‘AJARIDAH
Mereka adalah pengikut dari ‘Abd al-Karim Ibn ‘Ajrad yang menurut al-Syahrasytani merupakan salah satu teman dari ‘Ati’ah al-Hanafi. Kaum ‘Ajaridah mempunyai paham puratinisme. Surat Yusuf membawa cerita cinta dan Al-Qur’an, sebagai kitab suci, kata mereka tidak mungkin mengandung cerita cinta. Oleh karena itu mereka tidak mengakui bahwa surat yusuf bukan bagian dari Al-Qur’an. Golongan ini juga terpecah belah menjadi golongan-golongan kecil. Diantaranya al-Maimunah, al-Hamziyah, dan al-Syu’aibiyah.
  1. AL – SUFRIAH
Pemimpin golongan ini ialah Ziad Ibn al-Asfar. Dalam pemahaman mereka, sama dengan golongan al-Azariqah yang dipandang ekstrim.
  1. AL – IBADIAH
Golongan ini merupakan golongan yang paling moderat dari seluruh golongan khawarij. Namanya diambil dari ‘Abdulloh Ibn ‘Ibad, yang pada tahun 686 M, memisahkan diri dari al-Azariqah. Paham moderat mereka dapat dilihat dari ajaran-ajaran berikut :
  1. Orang islam yang tak sepaham dengan mereka bukanlah mukmin dan bukanlah musyrik, tetapi kafir.
  2. Daerah orang islam yang tak sepaham dengan mereka, kecuali camp pemerintah merupakan Dar Tawhid atau daerah yang meng-Esa-kan Tuhan dan tidak oleh di perangi.
  3. Orang islam yang berbuat dosa besar adalah Muwahhid yang meng-Esa-kan Tuhan, tetapi bukan Mukmin dan bukan kafir al-Millah yaitu kafir agama.
  4. Yang boleh dirampas dalam perang hanyalah kuda dan senjata. Emas dan perak harus dikembalikan kepada orang yang mempunyai.
Adapun golongan-golongan Khawarij ekstrim dan radikal, sungguhpun mereka sebagai golongan telah hilang dalam sejarah. Ajaran-ajaran ekstrim mereka masih mempunyai pengaruh, walaupun tidak banyak, dalam masyarakat Islam sekarang.
والله أعلم بالصواب
DAFTAR PUSTAKA
 Nasution, Harun. 2002, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah anlisa Perbandingan, Jakarta: Universitas Indonesia (UI Press)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Coupons