Senin, 18 Maret 2013

Mengapa Ridho Suami Itu Surga Untuk Para Istri



61-ways-of-wifeSEORANG suami tak pelak adalah seorang pemimpin dalam sebuah rumah tangga. Hingga, tak heran, dalam Islam, kedudukan seorang suami menempati beberapa keutamaan.
Utamanya adalah ridho seorang suami juga merupakan ridho Allah SWT. Tentu dalam koridor syariat yang sudah digariskan oleh Islam.
Berikut ini adalah enam alasan mengapa ridho suami adalah surga untuk para istri.
1. Seorang suami dibesarkan oleh ibu yang mencintainya seumur hidup. Namun ketika dia dewasa, dia memilih mencintai istrinya yang bahkan belum tentu mencintainya seumur hidup, bahkan sering kali rasa cinta kepada  istrinya lebih besar daripada cintanya kepada ibunya sendiri.
2. Seorang suami dibesarkan sebagai lelaki yang ditanggung nafkahnya oleh ayah dan ibunya sehingga dia meningkat dewasa. Namun sebelum dia mampu membalasnya, dia telah bertekad menanggung nafkah istrinya, perempuan asing yang baru sahaja dikenalinya dan hanya terikat dengan akad nikah tanpa ikatan rahim seperti ayah dan ibunya.
3. Seorang suami ridha menghabiskan waktunya untuk mencukupi keperluan anak-anak seorang istri dan istrinya. Padahal dia tahu, di sisi Allah, seorang istri lebih harus dihormati tiga kali lebih besar oleh anak-anak dibandingkan dirinya. Namun tidak pernah sekalipun seorang suami merasa iri hati, disebabkan suami mencintai istrinya dan berharap sang istri memang mendapatkan yang lebih baik daripadanya di sisi Allah.
4. Seorang suami berusaha menutupi masalahnya di hadapan seorang istri dan berusaha menyelesaikannya sendiri. Sedangkan seorang istri terbiasa mengadukan masalah pada suaminya dengan harapan dia mampu memberi penyelesaian. padahal mungkin saja di saat istri mengadu, suami juga sedang mempunyai masalah yang lebih besar. namun tetap saja masalah istrinya diutamakan berbanding masalah yang dihadapi sendiri.
5. Seorang suami berusaha memahami bahasa diam istri, bahasa tangisan istri. Sedangkan seorang istri kadang hanya mampu memahami bahasa lisannya saja. Itupun bila dia telah mengulanginya berkali-kali.
6. Bila seorang istri melakukan maksiat, maka dia akan ikut terseret ke neraka, karena dia ikut bertanggung jawab akan maksiat seorang istri. Namun bila dia bermaksiat, seorang istri tidak akan pernah dituntut ke neraka. Sebab apa yang dilakukan olehnya adalah hal-hal yang harus dipertanggung jawabkannya sendiri. [halim islam] Islampos

Bahaya Kemunculan Puncak Fitnah Dajjal


BANYAK manusia dewasa ini yang tidak peduli akan puncak fitnah yang bakal datang di akhir zaman. Dajjal menjadi fenomena yang dianggap sekedar mitos. Bahkan banyak yang menganggap Dajjal tidak ada. Sehingga banyak manusia yang melupakannya dan tidak pernah peduli untuk membicarakannya.
Ketika pengabaian ini terjadi di kalangan orang awam ia sudah menjadi suatu masalah. Namun realitasnya lebih jauh daripada itu. Bahkan kita menyaksikan dewasa ini para pemberi peringatan seperti para muballigh, penceramah, ustadz dan kebanyakan ulama tidak lagi peduli untuk memperingatkan ummat akan bahaya fitnah Dajjal. Padahal bilamana kedua gejala ini sudah tampak, maka Rasulullah justru mengatakan bahwa pada saat seperti itulah Dajjal bakal keluar.
“Dajjal tidak akan muncul sehingga manusia melupakannya dan para Imam meninggalkan untuk mengingatnya di atas mimbar-mimbar.” (HR Ahmad 16073)
Nabi Muhammad shallallahu ’alaih wa sallam bersabda bahwa pada saat kebanyakan orang awam melupakan perkara Dajjal dan para Imam tidak lagi memperingatkan ummat akan bahaya puncak fitnah Dajjal, maka ketika itulah justru Dajjal bakal keluar. Sedangkan realitas dunia kita dewasa ini sudah mengandung kedua fenomena tersebut. Artinya, sudah saatnya kita waspada mengantisipasi kemunculan Dajjal yang bila-bila masa dewasa ini akan keluar.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad Nabi Muhammad shallallahu ’alaih wa sallam menjelaskan ciri khas Dajjal kepada ummatnya yang belum pernah dijelaskan oleh para Nabi sebelumnya kepada ummatnya masing-masing. Beliau menegaskan bahwa Dajjal itu bermata dua namun salah satunya cacat alias buta sehingga yang ada/berfungsi hanyalah satu mata saja.
“Dan sesungguhnya Dajjal itu bermata satu; sebelah matanya tidak nampak. Di antara kedua matanya tertulis “kafir” yg terbaca oleh setiap mu’min yg mengerti baca-tulis ataupun tidak.”(HR Ahmad)
Hadits di atas mengingatkan kita akan suatu simbol yang tertera pada lembar uang kertas satu dollar Amerika Serikat (one dollar bill). Di dalamnya kita lihat sebuah gambar yang disebut sebagai The Great Seal (Meterai Yang Agung). Gambar ini sarat makna dan isyarat. Kata-kata berbahasa Latin Novus Ordo Seclorum berarti the New World Order (Tatanan Dunia Baru). Sedangkan di atas tulisan tersebut ada gambar primada yang tidak sempurna karena bagian pucuknya terpotong.
depositphotos_5391299-Symbol-On-One-Dollar
Itu ada sebuah segitga yang berukuran persis sesuai untuk diletakkan menjadi pucuk piramida. Di dalam segitiga tersebut terdapat gambar mata tunggal. Lalu di atas segitiga bermata tunggal itu ada tulisan Latin Annuit Coeptis yang berarti “the Eye of Providence has approved of (our) undertakings.” (si Mata Tunggal telah merestui usaha-usaha kami).
Jika kita tafsirkan gambar di atas, maka ia bisa bermakna bahwa dunia sedang diarahkan menjadi sebuah sistem yang berstruktur bak piramida yang belum memiliki pucuk. Struktur dunia yang belum mempunyai pemimpin tertinggi. Namun pemimpin tersebut sedang dinanti-nantikan kehadirannya. Dan struktur dunia yang dirancang menjadi the New World Order tersebut menantikan kedatangan pemimpinnya yang bersimbolkan si Mata Satu (Dajjal?).
Seluruh upaya mewujdukan dan memapankan the New World Order merupakan rangkaian usaha untuk meraih keridhaan dan restu dari si Mata Satu alias Dajjal. Dengan kata lain Tatanan Dunia Baru ini adalah sebuah proyek persembahan kolosal untuk menyambut kedatangan puncak fitnah yaitu Dajjal…!

Segenap dimensi kehidupan modern dewasa ini adalah dalam rangka mewujudkan the New World Order (Tatanan Dunia Baru). Sebuah sistem yang tidak berlandaskan nilai-nilai keimanan bahkan dipengaruhi sangat oleh nilai-nilai kekufuran, nilai-nilai Dajjal. ”We are living in a Godless Civilization,” demikian ungkap Imron Hosein, mantan Imam Masjid PBB New York.
Bahkan Ahmad Thompson, seorang penulis Muslim berkebangsaan Inggris jelas-jelas menyatakan bahwa dunia modern semenjak hampir satu abad yang lalu (sejak runtuhnya Khilafah Islamiyah terakhir) membentuk diriya menjadi sebuah Sistem Dajjal. Suatu sistem sarat Dajjalic Values dimana jika oknum Dajjal muncul pada masa sekarang ini, maka ia akan segera dinobatkan menjadi pimpinan Sistem Dajjal yang telah tersedia.
Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah. Bila rangkaian fitnah telah bermunculan menjelang datangnya Dajjal, maka manusia akan mengalami proses seleksi. Barangsiapa yang sanggup istiqomah menghindarkan diri dan keluarganya dari rangkaian fitnah tersebut, maka ia bakal sanggup terbebaskan dari puncak fitnah, yakni Dajjal.

Dan sebaliknya, barangsiapa yang malah ikut serta menyemarakkan rangkaian fitnah sebelum datangnya Dajjal, niscaya ia akan sangat mudah menjadi sasaran tipudaya Dajjal. Barangsiapa yang tanpa jiwa kritis menerima bahkan mendukung the New World Order, maka ia termasuk mereka yang pada hakikatnya turut menanti-nanti dan menyambut dengan sukacita kedatangan pucuk pimpinan, yaitu Dajjal.
Suatu ketika ihwal Dajjal dibicarakan di hadapan Rasulullah saw. Kemudian beliau bersabda:
”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari rangkaian fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal). Dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali dalam rangka menyongsong fitnah Dajjal.” (HR Ahmad V/389).

Oleh : Ust. Ihsan Tandjung

Sedekah Menghantarkan Masuk Surga


Seorang laki-laki dari Syam datang dan berkata, “Tunjukkan kepadaku Shafwan bin Sulaim karena aku melihatnya telah masuk surga.”
Aku bertanya, “Dengan apa ia masuk surga?” Mereka menjawab, “Dengan selembar kain yang ia pakaikan kepada seseorang. “
Shafwan pun ditanya tentang kisah selembar kain tersebut, kemudian ia menjawab, “Ketika itu, pada malam yang dingin aku keluar menuju masjid, tiba-tiba aku bertemu dengan seorang lelaki tanpamengenakan pakaian. Kemudian, aku lepas bajuku dan aku pakaikan untuknya.”[al Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir]
Sumber: Dikutip dari buku “Bila Amal di Bayar Kontan’, Sayyid Abdullah Sayyid Abdurrahman ar-Rifai, Penerbit Darul Falah

Minggu, 17 Maret 2013

Ini Lima Simbol Setan dari Peradaban Mesir Kuno

Saat ini banyak orang salah kaprah menjadikan sejumlah gambar sebagai lambang atau ikon. Gambar dan ikon tersebut dijadikan sebagai lambang perusahaan hingga sampai lambang negara. Sekilas mungkin tak ada artinya, namun ternyata maknanya berbeda ketika kita tahu lambang-lambang tersebut menggambarkan apa. Berikut ini lima simbol yang berasal dari simbol setan di masa peradaban Mesir kuno.

1. Ankh
Ankh bentuknya mirip salib jika dilihat sepintas. Ankh digunakan untuk pemujaan pada dewa matahari di era Mesir Kuno. Ankh dipercaya sebagai simbol reinkarnasi yang bermakna keabadian hidup. Menurut cerita sejarah, untuk menggunakan simbol ini dalam pemujaan, orang Mesir Kuno harus mempersembahkan kesucian gadis perawan dalam suatu pesta ritual.

2. Pentagram
Simbol bintang terbalik ini bukan lelucon atau iseng semata, simbol ini melambangkan setan. Simbol ini dahulu digunakan oleh para penyihir wanita untuk melakukan ritualnya. Apabila dilihat, simbol bintang terbalik ini nampak seperti muka setan yang bertanduk. Anehnya, penggunaan lambang pentagram banyak digunakan di Indonesia termasuk diantaranya oleh salah satu stasiun televisi swasta.



3. Tanduk Unicorn
Tanduk unicorn ini melambangkan kekuatan seks dikarenakan bentuknya yang mirip kemaluan pria. Namun di beberapa daerah, tanduk unicorn ini disebut tanduk italia, tongkat sihir, ataupun tongkat Leprechaun.

4. Scarab
Scarab berbentuk seperti hewan kumbang, yang berasal dari bahasa latin yaitu Scarabaeus sacer. Orang Mesir kuno menggunakan lambang ini untuk hal-hal yang keramat, suci, atau benda yang dijadikan jimat.





5. Bulan Sabit
Bulan sabit merupakan simbol dari Dewi Isis di era Mesir Kuno. Biasanya simbol ini digunakan oleh kelompok aliran sesat yang selalu berhubungan dengan seks bebas.


Sumber: Republika.com

Memahami Arti Kehidupan Dunia Dengan Sebenarnya

 

Yang termudah untuk membentuk kesabaran, khususnya dalam menghadapi petaka dan bencana ialah dengan memahami hakekat kehidupan dunia. Kehidupan dunia bukanlah surga kebahagiaan atau tempat tinggal abadi, tetapi medan pelaksanaan tugas dan menempuh ujian dan cobaan. Manusia diciptakan untuk diuji agar lulus memasuki kehidupan abadi di akherat, menempati sorga dan terbebas dari neraka.

Apabila seseorang benar benar menyadari hal tersebut dia tidak akan terkejut bila tertimpa musibah. Sebaliknya apabila seseorang membayangkan kehidupan dunia sebagai jalan yang mulus, datar dan dikelilingi bunga-bunga dan wangi semerbak, maka bila ditimpa sedikit kesulitan saja dia terperangah, terperanjat, gelisah, kehilangan akal dan tak tahu harus kemana berpegangan.

Al Qur'an menjelaskan bahwa kehidupan dunia penuh kesulitan dan kepayahan.

Firman Alloh SWT, yang artinya : "Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam susah payah". (Al Balad : 4)

Al Qur'an juga menjelaskan tentang keadaan alam dan nasib manusia yang selalu berubah ubah dan tidak pernah selamanya stabil. hari ini mungkin kebahagiaan beserta kita, tetapi siapa mengira esok hari bencana derita dan duka nestapa menimpa kita.

Firman Alloh SWT, yang artinya : "Jika kami (pada perang uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejadian dan kehancuran) itu, kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Alloh membedakan orang orang yang beriman (dengan orangorang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikanNya (gugur sebagai) syuhada. Dan Alloh tidak menyukai orang orang yang zalim." (Ali Imraan: 140).

Allah SWT menciptakan kehidupan dunia ini bercampur antara kesenangan dan kesusahan, antara kenikmatan dan penderitaan, antara hal hal yang disenangi dan yang dibenci. Tidak akan ditemui suka tanpa duka, atau kesehatan tubuh tanpa penyakit atau istirahat penuh tanpa lelah, atau pertemuan tanpa perpisahan atau keamanan tanpa ketakutan.

Karena jika demikian bertentangan dengan kaidah dan hukum alam (sunnatuloh) dan peranan manusia didalamnya. Itulah yang disadari dan diyakini para 'arif, sastrawan dan penyair sejak zaman dahulu. Mereka banyak berbicara dan menulis syair serta puisi. Ali bin Abi Tholib ra diminta melukiskan kehidupan dunia, dia berkata : "apa yang harus saya gambarkan tentang tempat pemukiman yang dimulai dengan tangisan, ditengahnya penuh kelelahan dan akhirnya pemusnahan."

Abdullah Ibnu Mas'ud ra berkata: "Tiap kesenangan pasti disertai kesusahan dan tiada rumah tangga dipenuhi kebahagiaan kecuali dipenuhi pula kesedihan".

Ibnu S'iriin berkata : Tiada ketawa selalu kecuali sesudahnya (datang) tangisan".

Wallahu'alam bish showab

Kamis, 14 Maret 2013

Khalifah al Ma'mun & Seorang Lelaki Kelaparan


Suatu hari Ma’mun melongok dari istananya. Dia melihat seorang laki-laki dengan arang di tangannya. Dia menulis dengan arang itu di dinding istana.
Ma’mun berkata kepada salah seorang pembantunya, “Pergilah kepada orang itu. Bawa dia kemari dan baca apa yang dia tulis.”
Pembantunya pun turun untuk menangkap laki-laki itu. Dia membaca, dan ternyata yang ditulis adalah,

“Wahai istana, padamu terkumpul kesialan dan kekikiran sehingga burung-burung hantu membuat sarang di sudut-sudutmu.
Pada hari di mana burung hantu membuat sarang padamu, saking bahagianya diriku, maka aku adalah orang pertama yang menyampaikan berita buruk tentangmu.”

Pembantu Ma’mun berkata kepadanya, “Kamu harus menemui Amirul Mukminin.”
Laki-laki itu menjawab, “Aku mohon dengan nama Allah, jangan bawa aku kepadanya.”
Pembantu berkata, “Dia melihatmu.”
Manakala laki-laki itu berdiri di hadapan Ma’mun, pelayannya berkata, “Ya Amirul Mukminin, dia menulis begini dan begini.” (Dia menyebutkan dua bait di atas.)
Ma’mun bertanya, “Celaka kamu, apa yang membuatmu menulis itu?”
Laki-laki itu menjawab, “Ya Amirul Mukminin, tidak samar bagimu apa yang dikandung oleh istana ini: harta, perhiasan, pakaian mewah, makanan, minuman, permadani, hamba sahaya, dan para pelayan. Aku melewati istana ini sementara aku dalam kondisi yang sangat buruk, lapar dan haus. Dua hari aku jalani tanpa makan dan minum. Sesaat aku berdiri. Aku berpikir. Aku berkata pada diriku sendiri, “Istana ini mewah dan ramai sementara aku lapar, maka ia tidaklah berguna. Jika ia runtuh lalu aku lewat dalam kondisi seperti itu, niscaya ada marmer atau kayu atau paku yang bisa aku jual untuk makan. Apakah Amirul Mukminin -semoga Allah memuliakan anda- tidak mengetahui bahwa telah dikatakan,

“Jika seseorang yang hidup di naungan suatu negara tidak memiliki kemuliaan dan harta benda, niscaya dia berharap negara itu runtuh.
Hal itu bukan karena kebencian kepadanya, hanya saja dia berharap negara lain. Maka dia mengharapkannya runtuh.”

Ma’mun berkata, “Pelayan, beri dia seribu dinar. Beri dia makan dan minum!” Lalu Ma’mun berkata kepadanya, “Wahai fulan, itu untukmu setiap tahun selama istana kami ramai dengan kami.”

Sumber: Buku ‘Sudah Muliakah Akhlak Anda?’, Ali Shalih al-Hazza’, Pustaka Elba

Amar Ma'ruf Nahi Munkar



Tidak diragukan lagi bahwa amar ma’ruf nahi mungkar adalah upaya menciptakan kemaslahatan umat dan memperbaiki kekeliruan yang ada pada tiap-tiap individunya. Dengan demikian, segala hal yang bertentangan dengan urusan agama dan merusak keutuhannya, wajib dihilangkan demi menjaga kesucian para pemeluknya.
Persoalan ini tentu bukan hal yang aneh karena Islam adalah akidah dan syariat yang meliputi seluruh kebaikan dan menutup segala celah yang berdampak negatif bagi kehidupan manusia.
Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan amal yang paling tinggi karena posisinya sebagai landasan utama dalam Islam. Allah l berfirman:

 “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.” (Ali Imran: 110)
Jika kita perhatikan dengan saksama, sebenarnya diutusnya para rasul dan diturunkannya Al-Kitab adalah dalam rangka memerintah dan mewujudkan yang ma’ruf, yaitu tauhid yang menjadi intinya, kemudian untuk mencegah dan menghilangkan yang mungkar, yaitu kesyirikan yang menjadi sumbernya.

Jadi, segala perintah Allah l yang disampaikan melalui rasul-Nya adalah perkara yang ma’ruf. Begitu pula seluruh larangan-Nya adalah perkara yang mungkar. Kemudian, Allah l menjadikan amar ma’ruf nahi mungkar ini sebagai sifat yang melekat dalam diri nabi-Nya dan kaum mukminin secara menyeluruh.
Allah l berfirman:
“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (at-Taubah: 71)
Siapa pun meyakini bahwa kebaikan manusia dan kehidupannya ada dalam ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya n. Dan hal tersebut tidak akan sempurna tercapai melainkan dengan adanya amar ma’ruf nahi mungkar. Dengan hal inilah umat ini menjadi sebaik-baik umat di tengah-tengah manusia.

Allah l berfirman:
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar….” (Ali Imran: 110)
Hukum Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Amar ma’ruf nahi mungkar adalah kewajiban bagi tiap-tiap muslim yang memiliki kemampuan. Artinya, jika ada sebagian yang melakukannya, yang lainnya terwakili. Dengan kata lain, hukumnya fardhu kifayah.

Namun, boleh jadi, hukumnya menjadi fardhu ‘ain bagi siapa yang mampu dan tidak ada lagi yang menegakkannya. Al-Imam an-Nawawi t mengatakan, “Amar ma’ruf nahi mungkar menjadi wajib ‘ain bagi seseorang, terutama jika ia berada di suatu tempat yang tidak ada seorang pun yang mengenal (ma’ruf dan mungkar) selain dirinya; atau jika tidak ada yang dapat mencegah yang (mungkar) selain dirinya. Misalnya, saat melihat anak, istri, atau pembantunya, melakukan kemungkaran atau mengabaikan kebaikan.” (Syarh Shahih Muslim)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Amar ma’ruf nahi mungkar adalah fardhu kifayah. Namun, terkadang menjadi fardhu ‘ain bagi siapa yang mampu dan tidak ada pihak lain yang menjalankannya.”

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz t mengemukakan hal yang sama, “Ketika para da’i sedikit jumlahnya, kemungkaran begitu banyak, dan kebodohan mendominasi, seperti keadaan kita pada hari ini, maka dakwah (mengajak kepada kebaikan dan menjauhkan umat dari kejelekan) menjadi fardhu ‘ain bagi setiap orang sesuai dengan kemampuannya.”
Dengan kata lain, kewajibannya terletak pada kemampuan. Dengan demikian, setiap orang wajib menegakkannya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Allah l berfirman:

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarlah serta taatlah dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang yang beruntung.” (at-Taghabun: 16)
Kemampuan, kekuasaan, dan kewenangan adalah tiga hal yang terkait erat dengan proses amar ma’ruf nahi mungkar. Yang memiliki kekuasaan tentu saja lebih mampu dibanding yang lain sehingga kewajiban mereka tidak sama dengan yang selainnya.

Al-Qur’an telah menunjukkan bahwa amar ma’ruf nahi mungkar tidak wajib bagi tiap-tiap individu (wajib ‘ain), namun secara hukum menjadi fardhu kifayah. Inilah pendapat yang dipegangi mayoritas para ulama, seperti al-Imam al-Qurthubi, Abu Bakar al-Jashash, Ibnul Arabi al-Maliki, Ibnu Taimiyah, dan lain-lain rahimahumullah.
Allah l berfirman:
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)
Nabi n bersabda:

“Siapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka cegahlah dengan tangannya. Jika belum mampu, cegahlah dengan lisannya. Jika belum mampu, dengan hatinya, dan pencegahan dengan hati itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 70 dan lain-lain)

Syarat dan Etika Beramar Ma’ruf Nahi Mungkar
Allah l menciptakan kita agar kita beribadah dan menjalankan ketaatan kepada-Nya sebaik mungkin. Allah l berfirman:
“(Dialah) yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (al-Mulk: 2)
Amar ma’ruf nahi mungkar adalah ibadah, ketaatan, dan amal saleh. Karena itu, harus dilakukan dengan benar dan penuh keikhlasan agar menjadi amalan saleh yang diterima. Al-Imam Fudhail Ibnu Iyadh t mengemukakan bahwa suatu amalan meskipun benar tidak akan diterima jika tidak ada keikhlasan, begitu pun sebaliknya. Keikhlasan berarti semata-mata karena Allah l, sedangkan kebenaran berarti harus berada di atas sunnah Rasulullah n.
Para penegak amar ma’ruf nahi mungkar hendaknya memerhatikan dan memenuhi beberapa syarat berikut.

Syarat pertama: Ilmu dan pemahaman sebelum memerintah dan melarang.
Apabila tidak ada ilmu, dapat dipastikan yang ada adalah kebodohan dan kecenderungan mengikuti hawa nafsu. Padahal siapa saja yang beribadah kepada Allah l tanpa ilmu, maka kerusakan yang diakibatkannya jauh lebih dominan daripada kebaikan yang diharapkan.
Dalam kaitannya dengan amar ma’ruf nahi mungkar, ilmu yang harus dimiliki meliputi tiga hal, antara lain: Mengetahui yang ma’ruf dan yang mungkar serta dapat membedakan antara keduanya; Mengetahui dan memahami keadaan objek yang menjadi sasarannya; serta mengetahui dan menguasai metode atau langkah yang tepat dan terbaik sesuai dengan petunjuk jalan yang lurus (ketentuan syariat).
Tujuan utamanya adalah supaya tercapai maksud yang diinginkan dari proses amar ma’ruf nahi mungkar dan tidak menimbulkan kemungkaran yang lain.

Syarat kedua: Lemah lembut dalam beramar ma’ruf dan bernahi mungkar.
Penyambutan yang baik, penerimaan, dan kepatuhan adalah harapan yang tidak mustahil apabila proses amar ma’ruf nahi mungkar selalu dihiasi oleh kelembutan. Bukankah Nabi n telah menyatakan dalam sabdanya:

“Sesungguhnya Allah Mahalembut dan menyukai sikap lemah lembut dalam tiap urusan. Allah l akan memberikan kepada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak akan diberikan kepada sikap kaku atau kasar dan Allah l akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan kepada selainnya.” (HR. Muslim “Fadhlu ar-Rifq” no. 4697, Abu Dawud “Fi ar-Rifq” no. 4173, Ahmad no. 614, 663, 674, dan 688, dan ad-Darimi “Bab Fi ar-Rifq” no. 2673)

Nabi n juga bersabda:
“Tidaklah sikap lemah lembut itu ada dalam sesuatu, melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah sikap lemah lembut itu dicabut dari sesuatu, melainkan akan menghinakannya.” (HR. Muslim no. 4698, Abu Dawud no. 2119, dan Ahmad no. 23171, 23664, 23791)
Al-Imam Sufyan ibnu Uyainah t mengatakan, “Tidak boleh beramar ma’ruf dan bernahi mungkar selain orang yang memiliki tiga sifat: lemah lembut, bersikap adil (proporsional), dan berilmu yang baik.”
Termasuk sikap lemah lembut apabila senantiasa memerhatikan kehormatan dan perasaan manusia. Oleh karena itu, dalam beramar ma’ruf nahi mungkar hendaknya mengedepankan kelembutan dan tidak menyebarluaskan aib atau kejelekan. Kecuali, mereka yang cenderung senang dan bangga untuk menampakkan aibnya sendiri dengan melakukan kemungkaran dan kemaksiatan secara terang-terangan. Sebab itu, tidak mengapa untuk mencegahnya dengan cara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.
Al-Imam asy-Syafi’i t berkata, “Siapa yang menasihati saudaranya dengan sembunyi-sembunyi, sungguh ia benar-benar telah menasihatinya dan menghiasinya. Siapa yang menasihati saudaranya dengan terang-terangan (di depan khalayak umum), sungguh ia telah mencemarkannya dan menghinakannya.” (Syarh Shahih Muslim)
Syarat ketiga: Tenang dan sabar menghadapi kemungkinan adanya gangguan setelah beramar ma’ruf nahi mungkar.

Gangguan seolah-olah menjadi suatu kemestian bagi para penegak amar ma’ruf nahi mungkar. Oleh karena itu, jika tidak memiliki ketenangan dan kesabaran, tentu kerusakan yang ditimbulkannya jauh lebih besar daripada kebaikan yang diinginkan.
Al-Imam ar-Razi t menjelaskan bahwa orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar itu akan mendapat gangguan, maka urusannya adalah bersabar.
Al-Imam Ibnu Taimiyah t juga mengemukakan bahwa para rasul adalah pemimpin bagi para penegak amar ma’ruf nahi mungkar. Allah l telah memerintah mereka semua agar bersabar, seperti firman-Nya:
“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati, dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari mereka melihat azab yang dijanjikan, merasa seolah-olah tinggal (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari. Tugasmu hanya menyampaikan. Maka tidak ada yang dibinasakan, selain kaum yang fasik (tidak taat kepada Allah l).” (al-Ahqaf: 35)
“Dan karena Rabbmu, bersabarlah!” (al-Mudatstsir: 7)

“Dan bersabarlah (Muhammad) menunggu ketetapan Rabbmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu ketika engkau bangun.” (at-Thur: 48)
Allah l juga menyebutkan wasiat Luqman kepada putranya dalam firman-Nya:
“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.” (Luqman: 17)
Seseorang yang beramar ma’ruf nahi mungkar berarti telah memosisikan dirinya sebagai penyampai kebenaran. Padahal tidak setiap orang ridha dan suka dengan kebenaran. Oleh karena itu, ia pasti akan mendapat gangguan, dan itu menjadi cobaan serta ujian baginya.
Allah l berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-‘Ankabut: 2—3)
Wal ‘ilmu ‘indallah.

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf al-Atsari)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Coupons